ANTI SINETRON

April 16, 2008 pada 11:36 am | Ditulis dalam Katagori | 3 Komentar

Hey Punjabi, tak ada akal pun jadi,
Mengapa kau buat film-film seperti ini,
Demi uang kau jual harga diri,
Mending kau jualan nasi di pinggir kali,
Lebih menarik, lebih bergengs
i ( lirik dari lagu “anti sinetron” oleh CCCC)

Saya sangat setuju dengan lagu anti sinetron dari Commit Compile Condemn Counteract (CCCC) diatas, karena memang yang terjadi pada dunia pertelevisian dan perfilman di Indonesia ini begitu memprihatinkan. Insan-insan perfilman nasionalpun sekarang seperti kaget (norak) dengan kebebasan ekspresi “syahwat merdeka”nya, sehingga banyak diantaranya yang tidak dapat membuat karya-karya yang sedikit bermutu minimal tidak ada unsur pornografi, kekerasan dan mistis, bahkan beberapa waktu lalu mereka beramai-ramai berdemo untuk membubarkan Lembaga Sensor Film di Indonesia.

Definisi pornografi
Definisi memang sangat penting, itu sebabnya Ibnu Sina pernah berkomentar: “Tanpa definisi, kita tak akan pernah bisa sampai kepada konsep.” Karena itu, definisi, menurut filsuf Iran itu, sama pentingnya dengan silogisme (logika berpikir yang benar) bagi setiap proposisi (dalil atau pernyataan) yang kita buat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dinyatakan bahwa pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.

Dalam Microsoft Encarta Dictionary Tools, pornografi didefinisikan sebagai sexually explicit material: films, magazines, writings, photographs, or other materials that are sexually explicit and intended to cause sexual arousal. Pornografi adalah penggambaran secara tegas tentang seksual; bisa dalam film, majalah, tulisan, foto dan bahan lainnya yang bermaksud menimbulkan rangsangan seksual. Pornografi tidak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi dan seni. Karena sejatinya, estetika (seni) tetap harus berdampingan dengan etika.

Untuk memelihara diri dan membebaskan diri dari jeratan cuci otak lewat televisi secara teknis, cobalah lakukan mulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat kita: teman, keluarga. Tentu kita tidak mau diri dan lingkungan kita rusak karena racun pornografi, mistis dan kekerasan. Kapan dan di mana pun kita menemukan media yang berbau pornografi, mistis dan kekerasan jangan ragu-ragu untuk melenyapkannya. Jaga diri, jaga keluarga, dan teman-teman. Saling mengawasi dan mengingatkan bukan berarti ikut campur urusan orang, tapi kita menjaga diri dan lingkungan untuk menghindari kerusakan.

3 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. asli deh eneg banget liat sinetron, memperlemah iman dan mental :roll:

    cuma sempet betah nunggu sinetron tayang karena ada cowo ganteng di sana…asli tuh cowo bener2 mencuri hati, baik waktu masih jomblo, menikah, hamil sampe sekarang selalu antusias liat mukanya :lol:

  2. Sinetron merusak mental generasi muda..
    jual kemewahan, anarkis, dll..
    cape nontonnya!!!
    walau kadang gw suka nonton juga, tapi gw nonton yg ada anak2 kecil lucunya..they looks so adorable..tp sayang yah..udah dieksploitasi..

  3. Saya pernah mendengar seseorang berpendapat jika kita tidak memilih chanel yang sedang menayangkan sinetron2 tanpa mutu tersebut, maka dengan sendirinya rating dari sinetron2 itu akan turun sehingga mungkin setidaknya akan menyadarkan pembuat2 sinetron dan film di Indonesia bahwa film mereka tidak menarik walau mungkin belum menyadarkan mereka jika sinetron2 dan film2 mereka tidak bermutu.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.